Beranda > Renungan > Sekali Lagi, Bersyukurlah

Sekali Lagi, Bersyukurlah


Coba anda sisihkan waktu sejenak untuk bersyukur atas hal-hal baik dalam hidup anda. Renungkan tentang apa yang telah anda capai, orang-orang yang memperhatikan anda. pengalaman yang telah anda dapatkan, keahlian dan minat yang anda miliki, apa yang anda percayai, dan hal-hal terindah dalam hidup anda.Hal-hal yang anda hargai, pelihara, dan jaga, akan terus meningkat dalam hidup anda. Kelimpahan dimulai dengan rasa syukur Dengan rasa syukur yang tulus, anda menghargai apa yang telah anda miliki, yang selanjutnya akan mendorong anda secara mental, spiritual, dan fisik, untuk mencapai apa saja yang menjadi tujuan anda.
Bagaimana mungkin anda mendapatkan hal-hal yang lebih besar, bila anda tidak bersyukur atas apa yang telah anda miliki saat ini? Toh semuanya, hanya bisa dimulai dengan apa yang anda telah miliki tersebut.Anda tahu. bahwa anda dapat mencapai tujuan, karena anda pernah merintis hal seperti itu. Pengalaman adalah milik anda yang patut disyukuri. Siapa bilang tidak ada hal yang bisa disyukuri?Segalanya dalam jangkauan anda saat anda bersyukur akan apa yang telah anda dapatkan.

Categories: Renungan Tag:
  1. 16 Maret 2010 pada 12:36 am | #1

    pengalaman benar2 membuat aku belajar banyak……

  2. 16 Maret 2010 pada 12:40 am | #2

    pengalaman membuat aku belajar banyak sekali…..

  3. 16 Maret 2010 pada 12:41 am | #4

    pengalaman membuat aku belajar banyak

  4. 18 April 2010 pada 5:28 pm | #5

    betul.. betul…

  5. andri
    13 Desember 2010 pada 8:55 am | #7

    mangstab, bro!
    Orang yang gampang bersyukur adalah orang yang gampang menjadi bahagia.

    Makan dipinggir jalan, tapi merasa bersyukur, otomatis batin bahagia.
    Makan di restorant, tapi tidak mensyukuri, otomatis batin tidak bahagia.
    Bahagia atau tidak bukan ditentukan banyaknya harta yang kita miliki, apa yang kita makan, dimana kita tidur, tapi ditentukan oleh besarnya rasa syukur kita.

    Bersyukur identik dengan (bahkan melampaui) sikap MENERIMA, NRIMO, iklas pada apa yang sudah dimiliki.

    Karena itu artikel di atas terasa ada yang agak tidak selaras, kontradiksi.
    <<>>
    Bila kita bisa menerima dg iklas, nrimo apalagi bisa sampai bersikap bersyukur, maka KEINGINAN (baca: keserakahan!!!) untuk mendapat hal yang lebih banyak, lebih baik mestinya SUDAH tidak ada.

    Keinginan untuk mendapat lebih banyak, lebih baik adalah ciri, tanda ketidakiklasan, tidak nrimo, ketidak bersyukuran atas apa yang sudah ada saat ini. :)

    Salam

    (maaf, email saya hoax)

  6. andri
    13 Desember 2010 pada 8:59 am | #8

    mangstab, bro!
    Orang yang gampang bersyukur adalah orang yang gampang menjadi bahagia.

    Makan dipinggir jalan, tapi merasa bersyukur, otomatis batin bahagia.
    Makan di restorant, tapi tidak mensyukuri, otomatis batin tidak bahagia.
    Bahagia atau tidak bukan ditentukan banyaknya harta yang kita miliki, apa yang kita makan, dimana kita tidur, tapi ditentukan oleh besarnya rasa syukur kita.

    Bersyukur identik dengan (bahkan melampaui) sikap MENERIMA, NRIMO, iklas pada apa yang sudah dimiliki.

    Karena itu artikel di atas terasa ada yang agak tidak selaras, kontradiksi.
    ===Bagaimana mungkin anda mendapatkan hal-hal yang lebih besar, bila anda tidak bersyukur atas apa yang telah anda miliki saat ini? Toh semuanya, hanya bisa dimulai dengan apa yang anda telah miliki tersebut.Anda tahu. bahwa anda dapat mencapai tujuan, karena anda pernah merintis hal seperti itu. ===
    Bila kita bisa menerima dg iklas, nrimo apalagi bisa sampai bersikap bersyukur, maka KEINGINAN (baca: keserakahan!!!) untuk mendapat hal yang lebih banyak, lebih baik mestinya SUDAH tidak ada.

    Keinginan untuk mendapat lebih banyak, lebih baik adalah ciri, tanda ketidakiklasan, tidak nrimo, ketidak bersyukuran atas apa yang sudah ada saat ini. :)

    Salam

    (maaf, email saya hoax)

  7. andri
    13 Desember 2010 pada 9:01 am | #9

    mangstab, bro!
    Orang yang gampang bersyukur adalah orang yang gampang menjadi bahagia.

    Makan dipinggir jalan, tapi merasa bersyukur, otomatis batin bahagia.
    Makan di restorant, tapi tidak mensyukuri, otomatis batin tidak bahagia.
    Bahagia atau tidak bukan ditentukan banyaknya harta yang kita miliki, apa yang kita makan, dimana kita tidur, tapi ditentukan oleh besarnya rasa syukur kita.

    Bersyukur identik dengan (bahkan melampaui) sikap MENERIMA, NRIMO, iklas pada apa yang sudah dimiliki.

    Karena itu artikel di atas terasa ada yang agak tidak selaras, kontradiksi.
    @@@@@Bagaimana mungkin anda mendapatkan hal-hal yang lebih besar, bila anda tidak bersyukur atas apa yang telah anda miliki saat ini? Toh semuanya, hanya bisa dimulai dengan apa yang anda telah miliki tersebut.Anda tahu. bahwa anda dapat mencapai tujuan, karena anda pernah merintis hal seperti itu.@@@@@
    Bila kita bisa menerima dg iklas, nrimo apalagi bisa sampai bersikap bersyukur, maka KEINGINAN (baca: keserakahan!!!) untuk mendapat hal yang lebih banyak, lebih baik mestinya SUDAH tidak ada.

    Keinginan untuk mendapat lebih banyak, lebih baik adalah ciri, tanda ketidakiklasan, tidak nrimo, ketidak bersyukuran atas apa yang sudah ada saat ini. :)

    Salam

    (maaf, email saya hoax)

  8. andri
    13 Desember 2010 pada 9:04 am | #10

    Ada yg terdelete kutipan yang ada diantara < >

    < < > >

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.