Beranda > Renungan > Hingga Detik Terakhir

Hingga Detik Terakhir


Pernah suatu hari saya berangkat ke kantor hanya dengan sepuluh ribu rupiah di kantong. Jika dihitung untuk ongkos pulang pergi dari dan ke kantor, jumlah itu hanya lebih seribu rupiah saja. Jelas dan sudah pasti tak ada makan siang hari ini. Dalam perjalanan menuju kantor, ada seorang ibu yang mengamen sambil menggendong bayinya. Entah kenapa saya pun tergerak untuk memberinya barang sedikit meski uang milik saya amat terbatas. “Pasti ada gantinya,” hati pun bergumam yakin.

Selang satu setengah jam di kantor, seorang rekan menyodorkan map sumbangan anak yatim. Lirih saya menatap map kumal itu, sementara saya tahu seorang ibu menunggu harap di depan gerbang. Saya keluarkan sedikit dari sedikit yang saya punya. Lagi-lagi saya berkeyakinan, “pasti ada gantinya”. Saya hanya tak ingin orang lain tahu saya benar-benar dalam keterbatasan, disisi lain lega rasanya masih ada yang bisa diberikan untuk orang yang lebih membutuhkan.

Tinggallah saya berpikir bagaimana pulang nanti dengan sisa uang yang tak mencukupi. Bahkan hati ini pun bertambah lirihnya mengingat uang yang saya tinggalkan untuk isteri di rumah tak jauh berbeda jumlahnya dengan yang saya bawa ke kantor. Entah apa yang ada dalam benaknya, saya hanya menduga bahwa ia teramat penuh harap suaminya membawa pulang rezeki yang cukup walau sekadar untuk masak besok pagi. Dugaan itu lah yang sempat membuat tangan saya terasa berat untuk mengulurkan pemberian ke ibu pengamen di bis tadi, juga ketika map anak yatim disodorkan di meja saya.

Tidak ada yang benar-benar bisa merasakan manisnya buah kesabaran sampai seseorang benar-benar yakin dan teguh diatas gapura kesabaran yang dibangunnya. Saya terus menerus mengukir kalimat itu dalam hati sepanjang hari di kantor meski bayang-bayang sesal memberi terus menghantui, “Siapa suruh memberi? Sekarang bingung kan nggak punya ongkos untuk pulang?”, hilir mudik bayang sesal itu terus menari-nari. Berkali-kali ditepis, berkali-kali pula ia mengganggu. Berat memang.

Selepas ashar nyaris runtuh keyakinan saya bahwa Allah akan mengganti setiap infak yang kita keluarkan dengan yang lebih besar. Walau buru-buru saya kesampingkan pikiran itu dengan satu kalimat, “Mungkin tidak hari ini Dia menggantinya”. Saya juga mulai mengira-ngira siapa rekan di kantor yang masih punya sedikit uang untuk saya pinjam.

***

Menjelang jam pulang kantor, seseorang memberi tahu bahwa uang royalti buku saya sudah keluar dan bisa diambil saat itu juga. Maha benar Allah atas semua janji-Nya. Saya yakin, kabar ini akan menambah manis senyum isteri di rumah.(eramuslim)

Iklan
Kategori:Renungan Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: